Aku dan Kamu memiliki hubungan pertemanan yang tak bisa dipisahkan, dari masa bercelana abu-abu hingga toga yang berhasil kita sematkan masing-masing. Semuanya, sama sekali tak berpengaruh. Aku dan kamu tetap seperti dulu, canda dan tawa walau jarak memisah kita.

Aku selalu ada untukmu, demikian pula dirimu, itu yang selama ini aku rasakan. Ingin Aku ajak dirimu, mengenal Cinta yang sudah lama dipendam rasa. Namun Aku ingat, masa di mana kamu terpuruk karena cinta. Masa di mana kamu mulai memandang sama semua pria, mungkin termasuk diriku.

 

melindahospital.com
melindahospital.com

Adinda, sebelum Kamu tersungkur lemas karena Cinta yang dia buat luka. Aku, Aku Adinda yang pertama terbujur lemas dan menangis tanpa luka, mendengar kabar bahwa ada lain pemuda yang mendapat Cinta Adinda.

Kamu tahu, Adinda? Saat kamu tengah asyik bercinta dengan dirinya. Jujur! Aku pasrah, mencoba mengikhlaskan rasa yang sudah lama terpendam tiba-tiba disapu pria jahannam yang saat itu kamu panggil dia Cinta.

Facebook yang saat itu sedang tenar di kehidupan anak muda, tempat kita bertukar cerita, Dia buat sepi seketika. Pria yang saat itu kamu panggil Cinta menutup semua akses dan memblokir semua kenangan berharga kita, kita Adinda, aku dan kamu.

www.wallpaperhd.pk
www.wallpaperhd.pk

Perjalanan Cinta kita kandas dengan luka yang berbeda rasa. Kamu dengan lukamu dan aku dengan lukaku. Sempat, saat itu Aku ingin jujur tentang perasaanku padamu. Tapi, dengan terangnya kamu bilang, bahwa kamu masih menyimpan harapan pada pria yang telah membuatmu luka.

Namun, itu semua hanya bagian dari masa lalu kita. Aku dan Kamu saat ini sudah sama seperti sedia kala, berbagi cerita, canda, tawa dan cinta.

Aku rasa, akhir daripada perjalanan Cinta yang selama ini telah aku lalui, hanya bermuara pada satu titik semata, titik yang sangat lamban aku sadari. Seluas apa pun peta yang aku buat, semuanya selalu berujung di kamu, Adinda. Bagaimana denganmu ?

www.catiebartlett.com
www.catiebartlett.com

Di kota mana pun kita singgah, dan dengan siapa pun kita berteman. Tetap saja, Cinta ini hanya berujung di kamu. Semoga yang selalu kusemogakan akan indah pada waktunya. Aku menanti pertemuan, menanti hangatnya dirimu dalam pelukkan, menanti kamu menjadi cintaku seorang. Tidak untuk sekarang, suatu saat nanti ‘Pasti’ dengan ridhoNya, aku percaya bahwa cinta akan pulang pada rumah yang tepat.