Dalam benak sebagian orang, mendaki gunung adalah kegiatan yang sia-sia. Sia-sia bisa berarti: tinggi dan jauh, untuk apa jua didaki, hingga tidak mudah dilakoni oleh orang kebanyakan. Tapi sia-sia juga bisa berarti: konyol, kegiatan yang kurang kerjaan. Ketika dunia digerakkan oleh kesibukan mencari uang sebanyak-banyaknya, dan diramaikan oleh hiruk-pikuk memburu kenikmatan, karir, popularitas dan kekayaan, ada sebagian orang yang rela berjalan berjam-jam, menguras habis isi dompet hingga mempertaruhkan nyawa agar bisa sampai ke puncak yang dituju. Mendaki bagai daftar menu yang menawan tanpa ada makanannya.

Saat ini, mendaki gunung sudah menjadi trend kekinian. Demi mendapat view yang bagus untuk berfoto ria, lahir sekelompok manusia yang berambisi menaklukan gunung, hey menaklukan gunung itu berarti menaklukan Penciptanya lho!. Ambisi yang membuat seseorang lupa akan esensi sesungguhnya dari ‘mendaki gunung’. Tak ayal, nyawa jadi taruhannya.  Foto didapat, pulang-pulang ke liang lahat.

Alam yang Tuhan ciptakan, bukan hanya untuk mata yang ingin selalu dimanjakan, ia bukan pula tantangan yang harus kamu taklukan, ia adalah ruang yang di dalamnya terdapat banyak pelajaran kehidupan yang bisa kamu ambil lalu amalkan. Belajarlah pada alam, ia tidak akan pernah berbohong, apalagi berkhianat. Mendakilah, karena mendaki adalah sebaik-baiknya perjalanan.

Mendaki menyadarkanmu bahwa hidup butuh perjuangan dan pengorbanan

Tidak ada istilah expert atau newbie dalam mendaki, apalagi senior atau junior, yang ada hanya ‘pernah’ dan ‘belum pernah’. Alam selalu memberikan nuansa berbeda. Sesering apa kamu mendaki tidak akan menjadikan gunung mudah untuk dilalui, butuh perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit untuk mencapai puncak. Setiap pendaki pasti merasakan hal ini.

Pun demikian, demi tercapainya tujuan hidupmu, akan selalu ada haling rintang yang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan untuk bisa melewatinya.

Mendaki juga mengajarkanmu untuk menjadi pribadi yang lebih siap dan terencana

Mendaki gunung tak cukup jika hanya bermodal keinginan, sekuat apa pun itu. Apalagi jika hanya bermodal niat. Mendaki gunung bukanlah wisata alam yang seketika sesaat bisa kamu lakoni, harus ada persiapan matang, mulai dari perencanaan waktu keberangkatan, jalur pendakian yang ingin dilalui, titik tempat istirahat, kesiapan perlengkapan dan kondisi tubuh yang fit. Mendaki tanpa ada persiapan matang, hanya akan membunuhmu. Jangan main-main dengan alam.

Begitu pula dalam menjalani hidup, kamu harus menjadi pribadi yang terencana dan bersiap ria agar semuanya berjalan dengan baik dan lancar, maka rencanakanlah dan bersiap sematang mungkin. Jangan main-main dengan hidupmu.

Mendaki akan membuat dirimu tak sama dengan yang dulu

Mendaki gunung bukanlah jalan-jalan biasa, keegoisanmu akan mati perlahan demi perlahan. Siapa yang memperjuangkan keegoisan, maka ia akan mati bersamanya. Alam memaksamu untuk hidup bersama, saling membantu dan menolong.

Mendaki gunung mengajarkanmu apa artinya perjuangan, pengorbanan dan kebersamaan. Dirimu akan terus ditempa oleh alam untuk menjadi pribadi yang lebih peduli. peduli terhadap ciptaan-Nya.

Dengan mendaki, kamu akan sadar bahwa dirimu yang kuat juga mempunyai batasan

Agar bisa sampai ke puncak, tidaklah cukup dengan sekali jalan. Dan hampir tidak mungkin ada pendaki yang sampai di puncak tanpa beristirahat, setiap pendaki perlu beristirahat untuk mengisi ulang tenaga.

Dalam keseharian sekuat apa pun dirimu, tubuhmu perlu istirahat. Jika kamu belum menyadari batasan dirimu, jangan sampai sakit yang mengingatkanmu, segeralah mendaki! alam tidak akan sungkan memberitahu batasan dirimu.

­­­­­Puncak gunung akan menyadarkanmu: seberapa besar pencapaian, tidak pantas sedikitpun untuk disombongkan

Lelah yang kamu lalui berjam-jam dengan cucuran air keringat yang membasahi setiap langkahmu, akan terbayar lunas ketika kamu sudah sampai di puncak. Kedua bola matamu tidak akan berhenti membelalak dan mulutmu akan selalu ingin mengucap rasa syukur. Rasa bahagia tanpa sandiwara dapat menyaksikan indahnya ciptaan Sang Maha Kuasa.

Lihatlah ke bawah, semuanya terlihat kecil. Pun demikian, mereka yang di bawah melihat ke atas sama kecilnya. Tidak ada yang pantas untuk disombongkan, kita semua sama-sama terlihat kecil. Rasa syukurlah yang membuat perbedaan.

Seberapa jauh kamu pergi, keluarga adalah sebaik-baiknya tempat kembali

Puncak bukanlah tujuan utama dari sang pendaki, melainkan pulang ke rumah dengan selamat. Selama perjalananmu menuju puncak, perlahan kamu akan mulai menyadari bahwa rumah adalah tempat sebaik-baiknya perlindungan dan kehangatan. Kamu juga akan lebih menghargai hal-hal kecil dalam kehidupan: menggunakan air secukupnya dan tidak membuang-buang makanan. Air dan makanan merupakan dua hal yang sangat berarti ketika pendakian.

Mendaki gunung seperti sebuah perjalalan mini kehidupan. Perjuangan, pengorbanan, saling menghargai, strategi dan keteguhan niat dibutuhkan agar kamu sampai pada apa yang kamu inginkan.

IMG_0218

Irwan – 04 November 2014 | Hargo Dumilah, Puncak Gunung Lawu | Jawa Tengah