Hari senin jam 08.00 WIB di sebuah sekolah, derap langkah kaki seorang wanita yang sudah tidak muda menuju kelas, tempat di mana aku dan teman-temanku berada, nampak sekali Ia belum kuasa menerima penuaan yang nyata, balutan bedak di wajahnya tak kalah tebal dengan buku bahasa Indonesia yang selalu aku bawa. Namanya Ibu Asna, Guru Bahasa Indonesia, konon dulunya Ia adalah ‘kembang desa’, Kemasyhuran-nya terdengar hingga ke beberapa desa tetangga, tak hanya kecantikannya yang nyata, ahlak-nya pun ikut terjaga, katanya.

Demi menjaga eksistensinya sebagai ‘mantan’ kembang desa, Ibu yang sudah memiliki 3 anak dan berprofesi sebagai seorang guru di sekolah SD Harapan Bangsa, sebelum mengajar tidak pernah lupa menghias rupa hingga nampak cantik nan jelita.

“ibu kan sudah tua, kenapa tidak berdandan semestinya saja”, begitu keluhku, “kenapa tidak ibu ikhlaskan saja status ‘kembang desa’ yang dulu pernah ibu dapat.” Tapi kata-kataku terjebak di tenggorokan. Nuraniku mencekek seolah dia ingin berkata bahwa kebenaran tak melulu harus diungkapkan, jika itu berbuah kesakitan, menerima apa adanya menjadi pilihan.

“ini Ibu Budi, ini Bapak Budi, di mana Budi?” Tanya Ibu Asna di tengah pelajaran. “Di siniiiii” 98% isi kelas menjawab serentak, seperti paduan suara, sisa 1% nya untuk Ibu Asna yang melontarkan pertanyaan dan 1% nya untukku yang diam memanyun. Namaku Budi, entah ini anugrah atau kutukan, setiap pelajaran Bahasa Indonesia namaku selalu muncul dan dijadikan contoh, nama yang jadul, nggak keren, kenapa nggak Steven, Boy atau apalah yang kekinian.

“Tapi nama itu membuat kamu terkenal, bukan?” begitu kata Iqbal teman sebangku dan sepemikiran. “Hey… Jadi bagaimana?” sore ini kita jadi berangkat kan?”

Demi meyakinkan Iqbal bahwa aku akan menepati janjinya maka kukatakan, “Ya”

Tidak seperti anak kelas SD pada umumnya, aku dan Iqbal pulang tanpa ada jemputan. Iqbal yang lahir dari keluarga pas-pasan tak mungkin minta dijemput dengan mobil mewah beserta supir pribadi, tidak tahu diri namanya. Aku ? Bukan tidak mampu, keluargaku kaya raya, ibuku seorang manajer di perusahaan asing, dan Ayahku seorang pengusaha property ternama, penghasilan mereka berdua tidak wajar. Awalnya aku seperti anak SD lainnya yang diantar dan dijemput ke sekolah, lambat laun aku mulai muak dengan sikap orang dewasa, yang terlalu banyak aturan dan larangan.

“Anak SMP / SMA saja boleh pulang sendiri, kenapa anak SD tidak?” begitu protesku pada Ayah, “anak kuliahan saja lepas dan tinggal sendiri, jauh dari orang tua? kenapa umur selalu dijadikan patokan, jika saat ini Aku sudah bisa seperti mereka?”

“Aku sudah hidup sebelum kamu mengada,” begitu kata ayahku dengan senyum terpancar ikhlas dari wajahnya, “itu sudah aturan Nak,” kedua matanya memejam dan diambilnya nafas panjang, lalu berkata “ya sudah, kamu boleh pulang sendiri, tapi ingat, sebelum sore kamu sudah ada di rumah”.

Hari ini senin, Ayah dan Ibu pasti pulang malam, anak mereka kan cuma uang. Jika setelah sekolah langsung pulang, hanya kebosanan yang sudah menunggu pasti. “Bud .. ayo” tiba-tiba Iqbal berdiri di sampingku. Baju putihnya yang sudah menguning pekat dan sepatunya yang penuh tambalan, menjadi ciri khas Iqbal, anak orang biasa yang memiliki kepintaran luar biasa, namun belum cukup untuk ambil alih posisiku di ranking pertama, ia selalu menjadi yang kedua di kelas. “Markicabbb” Seraya tangan kananku memegang pundaknya.

Aku keluarkan 2 tablet berukuran 7 inc, satu untuk kupakai dan satunya untuk Iqbal pakai. Bukan perkara sulit bagi orang kaya sepertiku mempunyai 2 tablet mahal dan bermerek, dengan dalih kepentingan sekolah, ayah dan ibu langsung membelikannya begitu saja, yang penting raporku baik. Iqbal, ia sering mengajakku ke tempat seperti ini, bangunan tua atau gedung setengah jadi. Ia hanya ingin bertablet ria, berselancar di dunia maya, hal apa saja yang membuat dirinya penasaran akan dikulek habis-habisan, hingga urusan dewasa sekalipun.

Dan aku sibuk dengan video yang sedang kuputar. “18 tahun ke atas”, orang-orang dewasa bilang “Ini tidak boleh untuk anak kecil” lantas, jika aku sudah dewasa boleh menikmatinya ? Argument bodoh yang pernah kutemui, kalau memang tidak boleh, kenapa diproduksi, kalau memang tidak baik kenapa orang dewasa boleh menikmati.

Mataku membelalak lebar, melihat dua orang berambut pirang sedang menunjukan aksinya di atas ranjang. Minggu lalu aku sudah melihat yang lokal, kurang apik cara bermainnya. Untuk hal ini orang berambut pirang, katakan saja bule, seperti serius dalam penggarapannya, bersih dan sangat terstruktur.

Sebenarnya aku tidak tahu lagi alasan mengapa aku melakukan hal seperti ini. tersirat rasa jijik dari wajah Iqbal, Ia akan duduk 1 meter menjauh ketika aku sedang asyik dengan videoku. Ia pernah bilang “pamali bud” lalu Ia menjelaskan alasannya panjang lebar, sesuai dengan artikel yang pernah Ia baca dari Internet. “kalau kedua orang tuamu tahu bagaimana bud?” Tanya Iqbal. “Ayah dan Ibu tidak akan pernah tahu bal, apa yang anak semata wayangnya lakukan, mereka hanya melihat raporku, jika bagus maka baguslah semuanya”.

Kumasukan kembali tablet ke dalam tas, dan Iqbal menjinjing tabletnya seperti buku, Ia mendekatkan posisi duduknya. Ada dua jenis manusia, katanya. Manusia pertama adalah manusia yang ingin dipanggil manusia.

“Maksudnya?” aku bertanya heran. “aku kira dua jenis yang kamu maksud adalah laki-laki dan perempuan, aku ingin tambahkan ada manusia setengah laki-laki setengah perempuan.”

Ia tertawa, menunjukan gigi kuningnya. “tentunya, kalau untuk hal itu kamu sudah tahu pasti, tapi yang barusan kamu tambahkan ‘setengah laki-laki setengah perempuan’, aku belum bisa menerimanya bud” Ia terkekeh, merasa jijik dengan pendapatku.

“lalu apa yang kamu maksud dengan ‘manusia yang ingin dipanggil manusia’?” aku bertanya kemudian. Ia membalikan badan, memberikan tabletnya padaku, lalu kembali ke posisi duduk semula. Aku masih dalam posisi yang sama. Memegang tas dengan kedua tanganku.

“Mereka adalah manusia yang berprilaku sewajarnya dan berpikir semestinya” jawab Iqbal tenang. “Kalau begitu, sekarang ini manusia jenis pertama sudah jarang?”.

Ia mengangguk setuju. “Populasi asli pribumi mulai menurun,” ujarnya menambahkan.

“Lalu jenis manusia yang kedua?” tanyaku kemudian.

Ia mengambil nafas panjang. Seolah ingin menumpahkan semua kekecewaan. “Mereka yang berprilaku tidak wajar dan berpikir tidak semestinya”

“Mereka melakukan hal yang jelas busuk dan menjijikan, andai saja mereka konsisten melakukannya, mereka bukan lagi manusia.”

“Maksudmu koruptor?”

Ia tertawa kecil “begitukah menurutmu? Mereka jelas bukan manusia.”

Lalu ia membenarkan posisi duduk, kedua lututnya diangkat dengan kedua tangan memegangnya.

“Kalau bukan manusia, mereka jelmaan tikus got ya ?” aku terkekeh.

“Jangan kamu samakan tikus dengan para koruptor busuk itu, jika para tikus diberi kesempatan untuk bependapat, mereka akan menyuarakan keberatan atas tuduhan yang selama ini membebani mereka”.

Iqbal sedang dalam mode serius. Guyonanku Ia hiraukan. Kalau sudah begitu, seluruh semesta seperti harus berhenti dan memberikan perhatian kepadanya. Ada kebiasaan Iqbal yang kusuka tiap kali berdiskusi, terutama tentang Indonesia. Ia tidak akan memandang siapa lawan bicaranya, anak SMP, SMA bahkan Ibu Asna saja kalah wawasannya. Anak SD saat ini harus mulai diperhitungkan. “Tidak perlu menunggu dewasa untuk diakui.” Begitu prinsipnya.

“Tikus itu akan lari terbirit-birit jika dilihat banyak orang, lah koruptor, sudah dilihat banyak orang, dipasangi puluhan kamera, masih saja sempat melaimbaikan tangan dan tersenyum menjijikan,” ujarnya menambahkan.

“Manusia saat ini mungkin sudah bosan dipanggil manusia, tidak perlu melihat kasta, hawa nafsu telak nampak di mata.” Ia melanjutkan, “Tidak bisa membedakan mana lubang kenikmatan mana lubang kotoran.”

Ia tertawa kecewa. “Ingin menjelma menjadi apa manusia saat ini ? Hewan, Manusia sekarang lebih buas dari hewan.”

“Kalau setan bagaimana?” kucoba tambahkan.

“Pernah kamu mendengar berita, setan membunuh keluarganya sendiri?” Tanya Iqbal.

“Belum pernah,” Jawabku ketus, lagipula siapa yang mau meliput keseharian setan.

“Nah itu, manusia sudah biasa membunuh sesama manusia, bahkan keluargnya sendiri, manusia lebih sadis dari pada setan, bukan?”

Aku sejenak berpikir. “Mungkin manusia jenis kedua ini sedang sakit?” kubuka kembali obrolan yang sempat berhenti sesaat.

Iqbal melemparkan bungkus rokok yang Ia temukan di sampingnya. “Merokok Membunuhmu” tagline setiap bungkus rokok di Indonesia.

“Mereka memang sakit Bud, tapi terlalu bodoh untuk menyadarinya,”

“Jika memang sakit, ada peluang untuk sembuh, bukan?”. Tanyaku kemudian.

Iqbal bangun dari tempat duduknya, lalu menyandarkan diri pada tembok.

“Penyakit ini sudah lama menyebar di beberapa Negara, tapi manusia di sana menerima sepenuhnya, entah menjelma menjadi apa, yang pasti nuraninya sudah sirna,” Ia ambil sedikit nafas. “perang yang tiada ujung, membunuh satu sama lain.”

“Apa Indonesia berpotensi menjadi Negara seperti mereka bal?,” Aku bertanya. Tepat ketika ia memalingkan wajah ke depan dengan tatapan penuh kekosongan.

“Sangat, sangat berpotensi, tidak menutup kemungkinan, Indonesia akan memasuki fase killing each other, saling membunuh satu sama lain, entah atas nama Agama, politik atau kepentingan lainnya.”

“Sudah nampak lambat laun ya,” ujarku menambahkan. “Lalu apa ada peluang untuk sembuh?” Aku ulangi pertanyaan yang belum Ia jawab.

“Ada, sangat berpeluang”. Ia kembali duduk, kali ini menyilakan kakinya. “Indonesia hanya perlu kembali ke asalnya, asal mula bagaimana Negeri ini dibentuk”.

Belum lama menyila, Ia kembali berdiri lalu bersikap siap, dan posisi tangan seperti sedang menghadap sangsaka merah putih. “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya”. Ia menyanyikan sedikit bait lagu Indonesia Raya.

“Mereka yang korupsi bukanlah orang bodoh, mereka berpendidikan, bahkan ada yang porfesor, namun jiwa mereka dibiarkan kehausan, lama tidak disirami, hingga mati tanpa disadari”.

“Para pelaku pendidikan, hanya sibuk membuat warga negaranya kaya akan prestasi, lantas melupakan kekayaan yang hakiki –kaya hati.”

“Kamu sudah baca berita, pembuangan sampah kabel di gorong-gorong di Jakarta?” Tanya Iqbal.

“Iya Aku sudah baca, Itu sabotase, katanya.” Jawabku.

“Bukan, bukan sabotase. Itu bukti nyata, bahwa saat ini ada manusia yang berhasil menjelma menjadi mahluk tanpa jiwa.” Ia kembali duduk, lalu melanjutkan. “Hewan dan setan pun akan lari terbirit-birit jika berhadapan langsung dengan manusia seperti ini, manusia yang hampir setara dengan Iblis.”

“Kalau kamu sudah besar nanti, jangan menjadi pemimpin Bud,” Ia membisikan.

“heh? Coba jelaskan kepadaku,” mataku membelalak penasaran. Tapi aku tersenyum mengelak. “Kenapa aku tidak boleh menjadi pemimpin?”.

Setelah kami ngobrol panjang lebar, kami beranjak pergi, sudah mau sore ternyata. “Kamu pintar, tapi jiwamu perlahan mulai rusak. Aku cuma khawatir, kamu cuma meneruskan perbuatan bejat mereka.”

Sialan. Diskak mat aku olehnya. “Oya, jangan jadi petugas PLN juga bud, aku takut semua gorong-gorong di Indonesia, kamu tutup dengan sampah kabel.”

Ia berlari kecil dengan tawanya yang puas. “kurang ajar kamu bal”, kesal tapi aku malah tersenyum.

Kata-kata tadi terus menerus terngiang di pikiranku.

Baca juga Cerpen cinta tanpa batas: Buku Catatan Merah