Mahasiswa saat ini kurang bisa memaknai arti hakiki dari makna ‘kuliah’. Kuliah semata-mata dianggap sebagai cara untuk mempermudah mendapatkan tiket masuk kompetisi bernama lowongan pekerjaan. Yang kemudian melahirkan sikap pragmatis, menghalalkan segala cara. Mulai dari nitip presensi, menyontek, melakukan copy-paste dalam membuat makalah dan lain-lain. Sikap pragmatisme lahir dari pemikiran bahwa nilai akhir mata kuliah hanya dipengaruhi nilai ujian semseter dan tanda tangan presensi.

Dua hal yang disebutkan diatas betul mempunyai pengaruh terhadap nilai akhir, tapi tidak dominan. Ada banyak faktor di luar nilai ujian semseter dan presensi yang turut mempengaruhi nilai akhir. Faktor-faktor tersebut antara lain seberapa aktif seorang mahasiswa ketika berada di kelas, posisi tempat duduk, sikap dan cara dia berkomunikasi dengan dosen dan seterusnya –

Pada kesempatan kali ini Saya akan berbagi cara mendongkrak IPK yang terbagi menjadi tiga bagian; Bagian pertama Jurus Jitu di Perkuliahan, Bagian kedua Cara Meningkatkan Pengetahuan dan Soft Skill, Bagian ketiga Cara Memuluskan Jalan Menuju Tugas Akhir/Skripsi. Artikel ini bersifat terbuka, baik jenius maupun jongkok, ganteng atau lumayan ganteng atau jelek sekalipun tidak masalah. Terutama untuk mahasiswa yang IQ-nya pas-pasan (seperti yang nulis). Lakukanlah lompatan besar dalam hidupmu, lompatan besar itu berupa keyakinan bahwa pilihan menjadi mahasiswa cerdas itu terbuka lebar, sebagaimana terbukanya pilihan untuk menjadi mahasiswa bodoh. Happy reading and take action!

Jurus Jitu di Perkuliahan

Duduk di Depan Saat Kuliah

Yang mana yang nggak kamu paham cantik ?
Yang mana yang nggak kamu paham cantik ?

Ada banyak manfaat yang akan kamu dapatkan jika kamu duduk di depan. Beberapa di antaranya, kamu bakal tahu percis apa yang disampaikan oleh dosen. Jika kamu nggak paham, kamu dapat bertanya dengan mudahnya. Dosen pun akan mempunyai kesan yang baik, karena selalu melihat kamu duduk paling depan. Duduk di kursi paling depan menunjukan semangat dan kesiapan kamu mengikuti perkuliahan.

Meskipun demikian duduk di deretan paling depan bukan berarti tanpa resiko. Jika dosen kamu tergolong dosen yang suka mengetes mahasiswanya siap-siap saja ditunjuk untuk mengerjakan soal latihan. Hal ini pernah terjadi pada Saya, dosen yang mengajar adalah seorang wanita yang sudah berkeluarga bergelar S2, pengampu mata kuliah SPK “Sistem Penunjang Keputusan”.  Beliau hafal betul nama saya, entah bagaimana awalnya, tiba-tiab saya dipanggil, padahal saya duduk di barisan ke dua, nggak begitu depan.

“Irwaaannnn mana Irwaaaannnn ??? Kerjakan nomor 5 ya”

Beliau nggak pernah memanggil saya dengan suara semestinya, pasti teriak. Tidak hanya untuk mengerjakan soal latihan, bahkan ketika AC kelas mati pun saya yang dipanggil ke depan.

“Irwaaaannnn AC matiii”

Jantung terasa mau copot ketika diminta mengerjakan soal latihan di depan, beliau tahu kalau saya belum begitu paham. Beliau membimbing step by step mengerjakan soal di white board, singkat cerita saya dapat menyelesaikan soal itu dengan baik.

Hikmah yang bisa kamu ambil adalah, jika kamu merasa sedikit cerdas duduklah di kursi paling depan. Duduk di depan secara tidak langsung ‘memaksa’ kamu menjadi cerdas. Duduk di deretan paling depan secara tidak langsung mendisiplinkan kamu dalam berpenampilan. Malu dong jika kamu bersandal ria dan duduk paling depan, bisa-bisa diusir dari kelas.

Jujur, Tidak Pernah Nitip Presensi

Aktivis yang kaya begini? Buanyaaaakkkk :)
Aktivis yang kaya begini? Buanyaaaakkkk🙂

Jujur adalah segala-galanya dalam hidup. Jika tidak berangkat kuliah, biarkan presensimu kosong, nggak perlu minta teman untuk mengisinya. Kenapa ? jika daftar hadirmu di kelas dijadikan salah satu dasar bagi dosen untuk memberikan penilaian akhir, maka nilai yang kamu dapat ada unsur kebohongannya. Ada unsur haram. Padahal nilai itu akan tertulis di transkip nilai kesarjanaan. Sedangkan transkip nilai biasanya dijadikan syarat penerimaan kerja. Maka suka nggak suka ada unsur haram dalam gaji yang kamu terima. Ngeri yak L  (untuk lebih jelasnya, kamu bisa tanyakan sama guru spiritual kamu J)

Kebohongan adalah salah satu bentuk bibit pencurian, cikal bakal koruptor. Jika kamu berbohong, tidak mengikuti perkuliahan sedangkan namamu dalam presensi dinyatakan hadir, itu artinya kamu telah membohongi empat pihak, pertama Tuhanmu, kedua Dosen, ketiga dirimu sendiri dan yang ke empat orang tuamu. Sikap Berbohong secara tidak sadar akan kamu bawa ke dalam dunia kerja, keluarga bahkan pergaulan sosial kamu. Alamat kamu nggak akan hidup tentram. Dan jika kamu suatu hari kelak diberikan amanah untuk memegang kekuasaan sebagai legislatif atau eksekutif bisa-bisa kamu calon tersangka KPK.

“setiap benih kebaikan, digandakan oleh Allah Swt 700 kali lipat. Setiap benih pencurian membuat kamu kehilangan sampai anak cucu dunai akhirat”

~Emha Ainun Nadjib~

Rajin Bertanya Saat Kuliah

Tanya terus, tanyaaa
Tanya terus, tanyaaa !!!!

Cara mendongkrak IPK lainnya adalah dengan bertanya. Bertanya memiliki banyak manfaat. Dengan bertanya kamu akan mendapatkan penjelasan tambahan dari dosen sehingga membuat kamu semakin paham. Pun demikian, kamu membantu teman yang semula nggak paham dan kebetulan tidak berani bertanya, menjadi paham. Bertanya bukan berarti harus tidak tahu, ada dua kemungkinan. Pertama, bisa saja karena kamu benar-benar nggak paham. Kedua, pertanyaan yang berrsifat explorasi; membandingkan antara teori yang diberikan dengan kenyataan yang diperoleh.

Agar kamu selalu mempunyai stok pertanyaan, maka kamu harus mempersiapkannya, sebelum kuliah pagi, malamnya kamu pelajari apa yang akan diberikan dosen, dengan membaca kembali materi dari pertemuan sebelumnya serta membaca buku refrensi yang direkomendasikan dosen. Dan satu hal penting lagi bagaimana cara bertanya yang baik agar dosen tidak merasa tersinggung, diserang atau disudutkan oleh pertanyaanmu?.  Salah satunya dengan menggunakan kata ‘mohon’.

“mohon kiranya bapak menerangkan kembali bagian ini, karena saya belum begitu paham dengan penjelasan bapak tadi”

Jika kamu belum terbiasa bertanya, gugup atau gerogi sangat kemungkinan bisa terjadi. Cara terbaik agar pertanyaanmu jelas dan lancar adalah dengan menulisnya terlebih dahulu point-point yang ingin ditanyakan. Dan yang terakhir kamu harus tahu kapan kamu harus bertanya? Biasanya di saat dosen mempersilahkan mahasiswanya untuk bertanya.

Meminta Izin Ketika Tidak Masuk Kuliah

Surat izin ya bukan surat cinta
Surat izin ya bukan surat cinta

Jika kamu benar-benar mengamalkan point ini, kamu akan dianggap gila oleh teman-temanmu.

“udah kuliahan, nggak masuk pake izin segala, hellooo dikira ini SMA”

mungkin ada sebagian temanmu yang berfikir demikian. Kamu harus berani gila di tengah kewarasan yang dianut sebagian besar mahasiswa. Ada nilai positif yang bisa kamu dapatkan jika kamu selalu izin setiap kamu tidak bisa mengikuti perkuliahan. Pertama, akan mendisiplinkan kamu untuk sedapat mungkin mengikuti perkuliahan. Kedua, mendorong kamu untuk menjadwal aktivitas dengan lebih baik.

Ketika kamu meminta izin untuk tidak masuk perkuliahan, mintalah tugas sebagai pengganti, bukan sebagai hukuman, anggap saja ini sebagai cara agar kamu bisa memahami apa yang disampaikan dosen ketika kamu tidak masuk. Dengan demikian kamu dituntun untuk membaca buku, memahami dan menuliskannya dalam makalah. Tapi kamu harus konsekuen, tugas yang diberikan dosen kamu kerjakan dengan sebaik-baiknya, jangan asal-asalan atau demi mencari pujian dosen semata.

Tapi kamu jangan terlalu sering minta izin tidak bisa masuk kuliah, maksimal 2 kali dalam satu mata kuliah. Kenapa? Karena jika demikian, bukan kesan jujur yang didapat tapi tuduhan gampang menyepelekan yang akan kamu terima.

Mengajak Dosen Diskusi Ketika Kuliah Usai

Mas, itu kakinya kebawahin
Mas, itu kakinya kebawahin

Jika jam kuliah sudah selesai sementara di benakmu masih banyak pertanyaan, kamu bisa minta waktu lebih untuk berdiskusi dengan dosen. Dengan syarat dosen tersebut sedang tidak sibuk. Cara ini sangat efektif untuk menimbulkan kesan akrab dengan dosen. Dan buat dosen-dosen muda, ajakan berdiskusi mahasiswa justru membuatnya lebih bersemangat dalam mengajar, dia merasa mempunyai teman, bukan hanya sekedar mahasiswa yang mencari nilai.

Saat diskusi, kamu tingkatkan hubunganmu dengan dosen, bisa dengan bertukar kartu nama, dan jika dosen memberikan kartu namanya, itu artinya dia telah membuka diri dengan kamu, yang bisa di telepon, di-SMS, main ke rumah atau bahkan jalan bareng (kalo dosennya masih muda ya dan belum berkeluarga).

Kartu namamu juga sangat bermanfaat bagi si dosen. Ketika dia kelewat sibuk dan membutuhkan bantuan, dia tidak akan berpikir panjang, dia akan mengontak kamu. Ketika kamu memberika kartu nama, katakan bahwa kamu siap dihubungi kapan pun jika dosen memang memerlukan bantuan.

Menjadi Presentator Tugas Mata Kuliah

Pak Budi: Kalian bedua kenapa ?
Pak Budi: Kalian bedua kenapa ?

Saat presentasi adalah saat paling tepat untuk menunjukan kepada dosen bahwa kamu cerdas. Berani speak up di hadapan banyak orang. Tentu dengan kesepakatan anggota kelompokmu. Idealnya setiap anggota kelompok wajib berbicara, untuk menyakinkan dosen, kalau makalah yang dibuat adalah hasil kerjasama. Kerjasama yang diartikan mahasiswa bisa multitafsir, dengan dalih kesepakatan kelompok, maka lahirlah fungsi sebagai tukang ketik, logistik, parahnya lagi fungsi sebagai donatur yang melunasi pembuatan makalah. Semua itu sah-sah saja, kan sudah kerjasama.

Dalam kondisi seperti ini kamu jadilah presentator, presentasikan isi makalah dengan sangat memikat, dan jawab dengan tangkas pertanyaan-pertanyaan, kritik-kritik dan keberatan yang muncul dari audiens. Kamu juga harus bisa mendeteksi pertanyaan yang diluncurkan dengan tujuan buruk. Misalnya, pertanyaan yang dimaksudkan untuk menjatuhkan kredibilitas salah satu anggota kelompok yang kebetulan tugasnya hanya mengetik atau donatur.

Jelaskan seperti ini:

“kelompok presentasi ibarat kru film. Ada tugasnya sebagai penulis skenario, ada sutradara, penata lampu, sopir, logistik dan lain-lain. Semuanya penting, meskipun ada kesan remeh. Misalnya, bagian logistik, bayangkan kru dan para pemain film tidak akan konsentrasi bekerja karena menahan lapar”

Kelas tiba-tiba hening.

Mengajukan Diri Presentasi Makalah Terlebih Dahulu

Sok ngacung yang mau maju tipayun ? :D
Sok ngacung yang mau maju tipayun ?😀

Hingga saat ini banyak dosen yang masih menerapkan kebijakan tangan besi. Otoritarianisme, main tunjuk. Atau dengan mengundi. Kenapa? Karena tidak adanya kelompok mahasiswa yang dengan sukarela menjadi yang pertama presentasi. Dengan demikian kamu bisa sedikit membantu permasalahan dosen dengan menjadi kelompok yang pertama presentasi. Ini juga dapat mendorong kelompok kamu untuk betul-betul membuat makalah dengan baik dan benar dan mempersiapkan presentasi sesiap mungkin.

Meminta Izin untuk Mempresentasikan Gagasan Tertentu

Presentasi pertama di kelas

Ada banyak subjek atau tema-tema penting yang terkait dengan mata kuliah, tapi jarang bahkan tidak pernah dibahas saat kuliah. Biasanya hal-hal yang tidak pernah dibahas saat kuliah lebih banyak ditemukan di forum-forum ilmiah, seperti seminar, lokakarya, workshop, semiloka, sarasehan dan sejenisnya. Maka dari itu buatlah makalah dan berikan pada dosen, minta dia untuk membacanya terlebih dahulu. Setelah itu kamu minta izin sekalian untuk dapat mempresentasikan makalah tersebut saat kuliah berlangsung. Hanya saja makalah yang kamu buat harus benar-benar sesuatu yang baru, belum pernah dibahas di kelas dan masih ada kaitannya dengan mata kuliah.

Kalau makalah yang kamu buat menarik dan banyak manfaatnya, dosen pasti mengiyakan. dikarenakan kamu sudah membantu meringankan tugasnya. Semangat membuat makalah dan mempresentasikannya adalah desentralisasi pengetahuan; kalau kamu pintar, jangan dimiliki sendiri. Bagi juga ke orang lain dengan cara mendorong mereka melakukan hal yang sama seperti yang telah kamu lakukan. Pada titik ini, dosen tidak hanya menganggapmu sebagai mahasiswa yang cerdas tapi juga sebagai mahasiswa yang mampu menginspirasi mahasiswa lainnya.

(Terinspirasi dari buku 24 Cara Mendongkrak IPK karya Agus M. Irkham)