Alkisah ketika Nabi Musa beserta pasukannya dikejar tentara Fir’aun, sampailah pada suatu kaki bukit. Di saat mereka istirahat, tiba-tiba Nabi Musa sakit perut, lantas berkata.

“Ya Allah, sakit sekali perut ini padahal kami sedang dikejar tentara Fir’aun”.

Lalu beliau berdoa, “Ya Allah, hamba-Mu ini memohon kesembuhan atas rasa sakit ini”.

Kemudian Allah Swt berfirman kepada Musa atas jawaban doanya tersebut, “Hai Musa, naiklah ke atas bukit dan makanlah dedaunan dari pohon yang kau temui di sana!” Nabi Musa pun bergerak naik ke atas bukit dan mendekati pohon tersebut. Tanpa disangka-sangka sebelum beliau menyentuh pohon tersebut, rasa sakit perutnya sudah hilang. Beliau pun berseru, “Alhamdulillah”.

Lalu beliau kembali turun ke pasukannya dan hendak berangkat melanjutkan perjalanannya. Tetapi sebelum bergerak jauh, tiba-tiba sakit perutnya muncul kembali. Langsung beliau kembali naik ke atas bukit lalu memakan dedaunan dari pohon tersebut. Satu, dua, tiga dan hingga beberapa helai daun dimakannya, tapi tak kunjung pula sembuh sakit perutnya.

Nabi Musa pun mengeluh pada Allah “Ya Allah, aku telah memakan daun dari tadi tapi sakit perutku tak kunjung pula sembuh. Mengapa Ya Allah?”.

Allah Swt berfirman, “Hai Musa, pada sakit yang pertama tadi kau meminta kepada-Ku untuk kesembuhan. Maka kuberi, sedang yang kedua kau langsung saja mengambil dan memakan dedaunan tersebut tanpa meminta kepada-Ku. Perkara aku hendak memberikan kesembuhan itu bisa lewat perantara manas saja, entah batu, air, atau mahluk-Ku yang lainnya, karena Akulah Sang pemberi kesembuhan. Maka bedoa dan memohonlah kepada-Ku”.

HIKMAH

Mungkin sebagian besar dari kita seringkali bersikap seperti Nabi Musa di atas. Secara sadar ataupun tidak, kita malah berharap kepada sesuatu yang bukan maha-Nya. Padahal sudah jelas janji Allah Swt, “berdoalah pasti akan Aku kabulkan”. Berangkat dari hal ini mari kita luruskan niat kita semua dalam setiap tindakan, dan selalu mengharap keridhoan dan keberkahan dari yang Maha Memilikinya.

Sumber : Raja Dalam Gentong “Kumpulan Dongen Islami Terpopuler”