Kelas Tak Beralas
Kelas Tak Beralas

1 Muharram 1413 H atau lebih tepatnya 21 Juli 1993 Pondok Pesantren Ummul Quro didirikan, begitu yang aku dengar kerap kali guru besarku menceritakan sejarah awal berdirinya Pesantren. Guruku selalu menangis jika menceritakan Pesantren, mungkin teringat betapa keras perjuangannya. Tak lupa disusul dengan tangisan para santri. Sedih rasanya, membayangkannya saja aku tidak sanggup, bagaimana bila aku yang mengerjakannya.

10 tahun lalu kelasku hanya berlapis triplek, beralaskan tanah, tanpa jendela dan tanpa pintu. Tidak ada yang harus aku buka ketika kelas hendak dimulai, ketika kelas berakhir pun, tidak ada yang harus aku tutup. Kelasku sangat terbuka, hingga angin dan hujan pun bisa keluar masuk sesukanya. Kelasku sangat nyaman ketika pagi, hamparan sawah selalu bisa menyegarkan mata siapa saja yang memandangnya, namun lain cerita. Jika waktu sudah beranjak siang, diam saja, sekujur tubuhku sudah penuh dengan keringat. Hanya beratapkan asbes, wajar saja. Meskipun demikian, guruku tetap mengajar dengan semangat, senyumnya seperti embun penyejuk, hawa panas bisa dingin seketika. Sesekali, aku dan kawan-kawanku belajar di luar kelas, jika panasnya sudah keterlaluan, pohon-pohon besar menjadi pilihan kami, sejuk rasanya, tamparan lembut dari angin yang berhembus. Angin selalu hadir dimana aku belajar. Terkadang, mahluk dari dunia lain pun ingin ikut belajar bersama-sama, salah satu temanku kerasukan. Awalnya takut, lambat laun semuanya sudah terbiasa. Hebatnya guruku, beliau tidak hanya mengajar para manusia, mahluk dari dunia lain pun diajarnya.

Sekarang kelas triplek tinggalah cerita, semuanya sudah berlapis tembok, ada jendela dan juga ada pintunya, bisa dibuka dan ditutup. Kalau panas tinggal nyalakan kipas angin, enaknya. Aku memang tidak pernah merasakannya, tapi aku sangat senang karena gedung-gedung yang berdiri sekarang dibangun di atas keringat santri; aku dan para santri terdahulu ikut membantu membangun; mengangkat pasir, mengangkat batu, hingga mengecor kami yang melakukannya. Aku sangat yakin tidak ada pelajaran mengecor atau pun mengangkat pasir di sekolah lain, tapi di sini ada. Guruku tidak hanya mengajarkan betapa pentingnya belajar di kelas, namun mengajarkan juga betapa pentingnya belajar dari kehidupan. Di tempat ini, aku mendapatkan semuanya.

Guruku sudah tidak muda lagi, rambutnya sudah mulai memutih. Tapi semangat mengajar beliau tidak pernah luntur dimakan usia. Suatu hari, ketika beliau selesai mengajar di kelasku –VI IPA I. Kakinya menginjak paku yang sudah berkarat lalu berdarah, beliau langsung terduduk di atas lantai kesakitan, seluruh penghuni VI IPA I keluar, aku pun ikut. Aku hanya bisa terdiam saat itu, mau ikut membantu, sudah puluhan orang yang maju. Aku sempat berpikir, kenapa guru tidak istirahat saja menikmati masa tua, duduk dan minum teh setiap sorenya, melihat lalu lalang santri setiap harinya, dan mengontrol gedung yang sedang dibangun tiada hentinya, toh pengajar disini sudah banyak guru. Kutangkas pikiranku saat itu juga, guruku bukanlah orang yang seperti itu, selama masih bisa bergerak, beliau tidak akan berhenti mengajar. Betapa bahagianya menjadi dirimu guru, dicintai banyak orang.

K.H Helmi Abdul Mubin Lc
K.H Helmi Abdul Mubin Lc

Guru, terima kasih karena sudah menuntunku, memotivasiku dan membantuku membangun mimpi. Ketika sedang putus asa, dengan mengingat semua petuahmu, harapan baru selalu muncul.

Tulisan dibuat untuk Lomba Menulis “Guruku Pahlawanku”