silhouette_muslimah_by_maxzymus-d69der4

Faiz tertawa tak ada habisnya, bak bajaj butut yang sedang menarik penumpang. Bising, tak memperhatikan keadaan sekitar yang merasa terganggu. Bukannya memberi tanggapan atau pertanyaan kek, dari awal cerita dia hanya mengangguk lalu mengakhiri dengan tawanya yang panjang.

“kamu pernah pacaran kan bang?” Tanya Faiz seraya mengakhiri tawanya

“Iya pernah, lantas kenapa iz?” Tanyaku balik.

“tak percaya aku bang, dengar cerita yang ini saja aku sudah bisa menebak kalau dirimu itu Venustraphobia

“Istilah apa itu Iz?” tanyaku heran.

“sejenis penyakit phobia bang, takut sama wanita cantik” ia menyambung kembali tawanya, kali ini lebih keras, tersirat kepuasan di wajahnya.

Rasanya aku ingin segera beranjak dari tempat ini, sesal aku cerita padanya. Ingin ku sumpal mulutnya dengan kaos kaki. Sebal.

“santai bang, santai” dengan sikap sok tahunya Faiz coba menenangkanku walau dari wajahnya terlihat jelas bercanda.

“Sikapmu ini bagus bang, tapi saranku cobalah bersikap biasa di depan perempuan, yang aku takutkan dengan sikapmu ini, kamu tidak bisa mandiri untuk mendapatkan pendamping hidup nanti, harus ada orang ketiga yang jadi perantara”

Benar apa yang dikatakan Faiz, tapi masih terlalu dini untuk ke arah sana.

“Jodoh di tangan Allah bang, Allah sang pemilik hati. Tapi, jika kamu tidak menjemputnya mana bisa Jodoh itu datang sendiri” Tambah Faiz. Omongannya sudah seperti da’i kondang.

“Usaha tanpa do’a itu sombong, do’a tanpa usaha itu mimpi di siang bolong” Faiz mengakhiri ceramahnya dengan gelak tawa yang menyebalkan.

“siapa nama gadis itu bang?” Tanya Faiz menyindir.

Sebelum rasa ingin tahunya kambuh, lebih baik aku akhiri saja ceritanya. Aku berdiri, lalu keluar kontrakan dengan alasan untuk mencari makan.

“eh mau kemana bang ?” Tanya Faiz khawatir, alisnya mengkerut

“makan iz, di burjo” jawabku seraya berjalan

“kamu belum kasih tahu siapa nama gadis itu bang”.

Apa kubilang. Untung saja aku langsung pergi. Namun ada benarnya apa yang ditanyakan Faiz, siapa nama gadis itu? Ah sudahlah, kejadian tadi sulit aku pindahkan dalam kata-kata. Aku terpangah, gadis itu langsung menegurku, wajahnya sumringah ditempa cahaya senja. Kerudung hitam yang tak henti melambai diterpa angin sore berpadan serasi dengan warna biru pakaiannya.

“Mas Irwan bawa buku catatanku ?”.

kata-kata itu selalu melintas dalam pikiranku, ia bertanya seraya tersenyum menyimpul lesung pipi. Ah Laki-laki mana yang tidak terhipnotis dengan senyumannya. Gadis itu tak kenal basa-basi, dia langsung memanggil namaku.

“Makasih mas Irwan sudah menjaga bukunya”. Buku itu langsung berpindah tangan ke pemilik aslinya.

“Se-ben-tar mbak” mulutku spontan ingin bertanya padahal keringatku masih terus mengalir. Makin Nampak geroginya.

“ya mas, ada apa?” gadis itu menoleh

“kamu tahu namaku dari mana?” pertanyaan bodoh yang keluar.

“karena mas Irwan karyawan perpustakaan” jawabnya biasa. Sambil menyimpulkan lesung pipinya.

Se-simple itukah dia tahu namaku. Gadis itu mengangguk sekali lagi, tanda ia ingin permisi.

“A bade mesen naon?” –A mau mesen apa. Teriak Aa burjo tepat di telingaku.

Teriakannya membuatku kaget. Aku langsung tersadar dari lamunan.

aya naon ngalamun wae juragan?” Tanya Aa burjo. Ia langsung duduk di sampingku.

Aa Deni namanya, meskipun berasal dari daerah yang berbeda, tapi masih satu tanah pasundan denganku. Aa Deni adalah pemilik warung makan, masyarakat di Yogyakarta apalagi mahasiswa pasti tahu betul warung makan yang dijuluki burjo ini. Aa Deni orangnya baik, tidak ada uang pun aku masih bisa pulang kenyang dari warung Aa Deni.

“Teu aya nanaon A, mie dok-dokna hiji, sareng nasina setengah we” – Tidak ada apa-apa A, mie dok-doknya satu, sama nasinya setengah saja.

Kamis, 05 Juni 2014

Setelah buku catatan itu dikembalikan aku kira rasa penasaran itu akan hilang, berbarengan dengan buku yang sudah ku kembalikan. Nyatanya rasa penasaran itu tetap ada, namun kali ini berbeda. Aku ingin mengetahui siapa nama gadis itu.

Diam-diam aku mulai mencari aktivitas gadis itu. Aku tak tahu jadwal kuliahnya tapi setidaknya aku tahu kapan ia berjalan melewati perpustakaan. Gadis itu selalu memakirkan motornya tepat bawah pohon yang tanpa ia sadari tempat parkirnya berbaris lurus dengan pintu perpustakaan, dan hanya satu posisi yang bisa melihat tempat parkir itu dengan jelas –tempat peminjaman kunci loker. Gadis itu selalu berpakaian rapi, berbeda dengan kebanyakan perempuan zaman sekarang yang selalu menggunakan celana layaknya pria, gadis itu selama aku perhatikan, selalu menggunakan rok.

Aku sadar kalau buku catatan itu bukanlah hal yang istimewa, tapi tidak tahu kenapa aku mulai terobsesi padanya. Seperti apa yang dikatan Faiz, aku bukanlah type laki-laki yang berani menegur apalagi mengajak berkenalan, aku hanya ingin melihat wajahnya. Entah perasaan apa yang memenuhi kepalaku. Rasanya menyenangkan jika aku bisa melihatnya setiap hari, senyum manisnya, raut wajahnya. Seperti sudah menjadi kebutuhan setiap harinya, akan terasa tidak sempurna jika ada hari aku tidak melihat wajahnya.

Senin, 09 Juni 2014

Untuk memenuhi obsesiku, hanya tersedia satu-satunya cara: aku harus selalu duduk di tempat peminjaman kunci. Maka lahirlah tingkah laku bodoh yang lahir dari obsesi yang bodoh. Setiap hari aku selalu duduk di tempat peminjaman kunci. Mas Arif mulai merasa aneh dengan sikapku.

“Irwan, kamu sini gantian …” Ajak Mas Arif

“Nanti deh mas, sampai jam 12 yah” Pintaku tanpa menoleh kepadanya

Tanganku gesit memberikan pelayanan pada setiap pengunjung yang datang. Memberikan kunci loker lalu menukarkannya dengan KTM atau kartu identitas lainnya dari pengunjung, rata-rata pengunjung perpustakaan menukarkan kunci loker dengan KTMnya, paling hanya satu atau dua orang yang sesekali menukar kunci loker dengan KTP atau SIM.

Tapi pikiranku hanya tertuju pada satu arah, tempat parkir. Motor matic berwarna biru langit itu belum terparkir, sudah berjam-jam aku memperhatikannya.

Sepertinya hari pertama ini aku terlalu semangat, dari awal masuk kerja pkl: 07.00 sampai pkl: 12.00 aku sama sekali tidak melihat gadis itu. Ya sudahlah aku putuskan untuk bergantian tempat kerja dengan Mas Arif. Aku mendengus kecewa.

“Heh wan. Dari pagi kerjaannya melamun terus” Tanya Mas Arif sambil menepak bahuku.

“Aku sholat dulu mas yah …” jawabku sambil berdiri.

Aku lepas sepatu lalu menggantikannya dengan sepasang sandal jepit. Sebelum beranjak ke tempat wudhu tak sengaja pandanganku terdiam ketika melihat motor matic biru yang sudah terparkir rapih. Tanpa pikir panjang, kedua mataku langsung sibuk mencari gadis itu. Tempat parkir terlalu ramai, disini area lalu lalang mahasiswa keluar-masuk. Aku hampir menelan ludah kecewa. Tapi tunggu, pandanganku tiba-tiba terdiam melihat langkah seorang gadis, samar-samar. Aku belum bisa memastikan siapa gadis itu.

Tiba-tiba gadis itu menoleh lalu tersenyum. Apa ku bilang, ternyata benar, cukup melihat dari cara berjalannya saja aku sudah tahu siapa gadis itu. Namun Kali ini ada yang berbeda, pandangan dan senyumannya seperti tertuju hanya untukku. Ah meskipun gadis itu tersenyum dari jarak 100 meter, namun kehangatannya terasa sangat dekat. Matanya membuatku gila. Aku langsung membalasnya dengan senyum terbaik abad ini.

Rabu, 11 Juni 2014

Hari ketiga, hari ini jadwalku masuk siang. Sial, aku telat. Motor itu sudah terparkir di bawah pohon. Aku sudah duduk rapih di tempat peminjaman kunci, Mas Arif minta ganti pun aku masih kekeh tidak mau. Sudah sore, namun gadis itu tak kunjung lewat. Mungkin dia sedang banyak urusan di kampus.

Hari ini aku bahkan sama sama sekali tidak melihat gadis itu. Aku pulang kerja pun motor itu masih terparkir rapih.

Senin, 16 Juni

Hari ketujuh. “kamu ini aneh wan, jadwal siang tapi datang lebih pagi?” Mbak Anggit melipat dahi, melihat tingkah lakuku yang aneh belakangan ini.

“Tidak apa-apa mbak. Sebentar lagi kan saya diwisuda, pengen lebih lama di kampus”. Aku menggaruk kepala, berusaha bertingkah senormal mungkin.

Sejak kejadian itu, tujuanku ke kampus tidak hanya untuk bekerja, namun ada tujuan lainnya yang lebih menyenangkan. Hari-hariku serasa lebih berwarna. Meski terkadang ada hari dimana aku tidak sempat melihat wajahnya. Tapi taka apa, lain hari pasti aku bisa melihatnya.

Duduk manis di bagian peminjaman kunci loker, menunggu gadis itu datang. Terjadilah insiden senyum dibalas dengan senyum. Mas Arif dan beberapa karyawan perpustakaan lainnya merasa aneh ketika aku asyik senyum sendiri. Namun lama kelamaan mereka mulai terbiasa dengan sikap anehku ini.

Hari ini hari ketujuh. Setibanya di perpustakaan aku sudah melihat motor matik itu terpakir rapih di bawah pohon. Mungkin gadis itu ada jadwal kuliah pagi. Sudah jam 16.30 WIB, sudah saatnya beres-beres perpustakaan, sekali lagi aku masih mematung menunggu gadis itu lewat. Mas Arif sudah mengajak untuk beres-beres, tapi badanku masih enggan bergerak, hingga pada akhirnya Mas Arif menarik-narik bajuku, dia mengajakku dengan paksa.

Hari sudah mulai gelap begitu pula dengan perpustakaan. Tanpa memikirkan apa-apa aku langsung pergi dengan motor bututku. Tanpa disadari motor matik itu sudah tidak terparkir. Dalam perjalanan menuju kontrakan, tiba-tiba motorku melambat, aku menelan ludah. Tidak salah gadis itu ada di samping jalan bersama temannya. Ia sedang membeli batagor (jajanan khas sunda). “semoga dia tidak melihat”. Lirih hatiku. Tiba-tiba gadis itu menoleh lalu melihatku yang semakin lama semakin mendekat, kemudian ia tersenyum. Ah aku merasa sedang dalam adegan slow motion, semuanya terasa lambat. Aku langsung balas dengan senyum terbaikku.

“kamu sehat bang?” Tanya Faiz curiga.

Aku tertawa setibanya di kontrakan-kejadian tadi tidak disangka-sangka dan sangat menghibur hati.

Nama? Jangan Tanya. Seminggu berlalu, aku belum memiliki ide sama sekali untuk bertanya siapa nama gadis itu.

bersambung

Sumber inspirasi : Novel “kau aku dan sepucuk angpau merah”