silhouette_muslimah_by_maxzymus-d69der4

Buku ini bukan apa-apa. Sama saja seperti buku yang lainnya. Faiz saja yang rusuh. Buku ini sama halnya seperti barang pengunjung lain yang tertinggal. Mas Arif pun sudah mengatakan, “banyak mahasiswa meninggalkan barang bawaannya di perpustakaan, entah disengaja atau benar-benar lupa, ada yang diambil ada juga yang dibiarkan begitu saja.

Tapi entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan buku ini. Ah sudahlah

Minggu pagi yang cerah, keputusanku untuk mencuci direstui alam.

Sabtu, 24 Mei 2014

Aku memulai hari dengan semangat, bukan semata-mata penasaran soal buku catatan yang sudah lama tertinggal, tapi lebih karena hari ini adalah hari pertama aku gajian. Sebelum berangkat kerja, aku sudah menghitung berapa banyak uang yang akan aku terima.

Akhir pekan yang menyenangkan.

Tiga puluh menit berlalu, perpustakaan mulai dipenuhi satu-dua pengunjung. “pagi, Irwan. semangat sekali hari ini,” petugas keamanan menyapa.

Aku tersenyum, balas dengan tangan hormat layaknya pimpinan upacara. Semenjak aku menjadi karyawan di perpustakaan, tidak hanya karyawan sini saja yang aku kenal, petugas keamanan –satpam pun aku kenal karib.

Aku menjaga tempat peminjama kunci loker hamir 3 jam, Mas Arif yang baru datang menghampiriku selepas menyimpan tas dan jaketnya.

“Sini gantian wan, kamu istirahat sholat dulu” Mas Arif menyuruhku bergantian posisi, menjadi penjaga tempat peminjaman kunci loker cukup melelahkan, apalagi kalo belum terbiasa, tangan kanan pasti akan merasa pegal sesudahnya. Aku mengangguk.

“ayo wan, sholat dulu sana” Mas Arif menegaskan.

Aku segera melepas sepatu sebelum ke kamar mandi, teringat sesuatu. “oia mas, masih inget gadis melayu berbaju hijau tosca itu?”

“oh itu, ingatlah, cantik, sekali liat pasti lah inget” Mas Arif tertawa.

“kalau Mas arif nanti lihat, aku mau titip pesan”

“alah beraninya nitip pesan, sendiri emang gak berani wan”. Percuma saja tampang gagah nan putih, mau kenalan dengan gadis saja titip pesan segala.”

“bukan itu maksudku, mas”. Aku jelaskan kembali bukut catatan yang sudah lama tertinggal, entah kenapa tiba-tiba aku memikirkannya. “siapa tahu buku itu milik si gadis melayu, bisa saja penting sekali, kasian kan kalo dia mencari-cari.”

Sepatuku sudah lama terlepas, sekarang sepasang sandal jepit yang sedang aku pakai. “Oh, soal itu to, oke lah. Nanti aku bilang sama gadis melayu itu kalo ada pemuda baik hati yang menemukan buku catatannya. Ah, jangan-jangan kamu mau modus wan, nah loh ketahuan.”

Aku melipat dahi. “Maksudnya?”

“bisa jadi alasanmu ingin mengembalikan buku catatan itu hanyalah modus belaka, dari mana kamu yakin itu buku milik si gadis melayu?, pengunjung perpustakaan banyak, bukan hanya dia wan.” Mas Arif tertawa, wajahnya terlihat sangat puas.

Aku menyengir, tidak menanggapi.

Perhatian, diberitahukan kepada pengunjung perpustakaan, bahwa perpustakaan akan segera ditutup dan dibuka kembali hari senin pada pukul 07.00, diharapkan kepada para pengunjung untuk segera bergegas

Hari sabtu perpustakaan dibuka sampai jam 12.00 WIB, berbeda dengan hari-hari lainnya, sampai jam 17.00 WIB. mungkin dibuat seperti ini agar karyawan yang sudah berkeluarga bisa lebih lama menghabiskan akhir pekan dengan keluarganya. Aku dan Mbak Anggit bergegas merapikan buku dan kursi.

“Irwan, kamu dipanggil Mas Arif. Katanya ada gadis yang sedang mencarimu. “Pak Broto yang ikut merapihkan tiba-tiba memanggilku.

Apa? Apa yang dia bilang? Aku langsung pergi meninggalkan kursi yang belum kurapihkan.

“eh mau kemana wan? Kursinya belum kamu rapihkan kenapa malah pergi?”

“Maaf ada yang lebih penting, Mbak.”

Saat dahi Mbak Anggit masih terlipat, bayanganku sudah hilang didepannya.

Senin, 26 Mei 2014

Kupikir kejadian kemarin sabtu itu sungguhan, ternyata tidak. Itu cuma akal-akalannya Mas Arif, dia sengaja membuatku malu.

“serius wan, kali ini aku tidak berbohong, si gadis melayu ternyata pemilik buku catatan yang kamu ceritakan. Kemarin dia terburu-buru, makanya saat kamu datang dia sudah pergi.” Mas Arif menjelaskan.

Sebenarnya hatiku masih kesal, tapi usai mendengar penjelasan bahwa pemilik buku catatan ternyata si gadis melayu itu. Hatiku mulai tenang, buku yang selama ini aku simpan ternyata benar miliknya. Aku jadi ingat apa yang Faiz pernah katakan.

ini pastilah buku milik gadis melayu berbaju hijau tosca itu bang.

Tak sabar rasanya ingin bertemu gadis berbaju hijau tosca itu, lantas bilang, “Apakah buku catatan ini milikmu yang tertinggal?” – tapi mana sempat aku berpikir begitu? Kalaupun milik dia, lantas kenapa? Dia boleh jadi sekedar bilang terima kasih, the end, cerita selesai.

“yaudah, kamu duduk di komputer tengah saja, bagian kunci biar aku yang jaga” Mas Arif menawarkan.

Aku hanya mengangguk, tidak menajawab, bekonsisten pada pengunjung yang sedang meminjam buku, sesekali ada juga yang memperpanjang waktu peminjaman. Dalam hitungan menit, bagianku selesai, sudah tidak ada transaksi dengan mahasiswa lagi, aku putar kursi kerjaku menghadap Mas Arif yang sedang sibuk meminjamkan kunci loker.

“Sekarang dia dimana mas” aku bertanya.

“di mana siapanya?” Mas Arif menoleh, tidak cepat paham.

“Gadis melayu berbaju hijau tosca itu.” Aku menyeka dahi.

“Oh, si cantik itu. Sabar wan sabar. Pengunjung yang mau pinjam kunci loker tak kunjung berhenti, aku harus melayani mereka dengan baik” Mas Arif malah berkata santai-menganggap urusanku sama sekali tidak penting dan mendesak. Satu kunci, dua kunci, tiga kunci, Mas Arif mengeluarkan kunci lalu memasukan KTM ke laci susuai dengan nomor kunci loker yang dipinjam, dia tidak mempedulikanku yang tak sabaran.

“dimana Gadis itu, mas?” aku berseru sebal.

“Ah, kamu ini, lebih baik kamu periksa buku sana, rapihkan sesuai katalognya, jam segini pasti banyak buku yang berserakan” Mas Arif melotot.

Baiklah. Aku berdiri meninggalkan kursi kerjaku.

“kamu cek perpustakaan ke semua sudut wan, tadi pagi sebelum kamu datang, gadis melayu itu sudah ada di perpustakaan. Mungkin mau ambil buku catatannya, tapi aku tidak tahu pasti, dia datang langsung meminta kunci loker” Mas Arif menjelaskan.

Memang pintar berakting teman kerjaku yang satu ini, baru saja membuatku kesal, seketika membuatku senang kembali.

Ke manakah gadis itu? Jangan-jangan Mas Arif membohongiku-mengingat dia sering jail padaku? Setengah jam aku menelusuri setiap sudut perpustakaan, aku mulai mengeluh. Aku pun sudah bertanya tiga kali ke orang-orang yang sibuk dengan buku bacaannya. Percuma, mereka tidak tahu.

Waktuku terbuang percuma, padahal masih banyak buku yang belum aku rapihkan. Saat aku sudah bersiap melupakan gadis itu, tiba-tiba ada seorang gadis berdiri dari kejauhan, sekitar 10 meter, pantas saja tidak ketemu, hari ini dia tidak memakai baju hijau tosca, dia memakai baju berwarna biru.

Aku meliuk melintasi dua rak buku, aku memeperhatikan di baliknya, tidak salah lagi. Jantungku berdetak lebih kencang. Gadis melayu belesung pipi, terlihat seperti ingin mengambil sesuatu. Kerudung panjangnya melambai. Dia mengenakan rok hitam yang ikut melambai terkena terpaan angin AC. Bukan main.

Sial! Saat jarakku tinggal beberapa meter lagi, bersiap melambai untuk menarik perhatian si gadis itu, ada yang memanggilku.

“loh ko bukunya masih pada berantakan wan?” tanya Mbak Anggit heran.

Aku menepuk dahi. Sejak tadi disuruh Mas Arif untuk merapihkan buku, hanya beberapa buku saja yang sudah ku rapihkan, sisanya aku sibuk mencari keberadaan si gadis melayu.

“Tak baik kerja setengah-setengah Irwan.” Mbak Anggit menggeleng-geleng. “cepat diselesaikan pekerjaannya.”

“Siap Mbak.”

Usai merapihkan buku, aku berjalan kembali ke tempat kerja-meja pelayanan. Tidak apalah, besok lusa masih ada waktu. Aku melihat kembali buku catatan merah itu. Buku catatan ini pasti kukembalikan ke pemiliknya.

Saat aku sudah menutup buku soal gadis itu, mataku sempurna melihat gadis itu antri di pengembalian kunci loker. Apa aku tidak salah lihat? Aku berlari-lari kecil di perpustakaan, menyibak pengunjung yang ingin keluar. Sial! Gadis itu sudah keburu keluar. Mungkin bukan hari ini aku harus menemuinya. Ah sudahlah.

“Woiiii, kamu hampir terlambat wan!” Mas Arif meneriakiku. “bergegas, nanti dia keburu pergi.” Dia menambah menepuk bahuku.

Aku tidak memperhatikan. Mana peduli dengan omongannya, entah kejailan apalagi yang dia rencanakan. Ada hal penting yang harus kuurus. Mataku melihat ke sana kemari. Kali saja si gadis itu masuk ke perpustakaan lagi.

“Kamu sudah kasih buku catatan itu belom?” Mas Arif bertanya riang, menyapa lebih dahulu sebelum aku sempat bertanya apa dia melihat gadis yang kucari-cari sejak tadi pagi.

“buku catatan?” dahiku melipat. “maksud kamu apa mas?”

“Iya, tadi pas pengembalian kunci loker gadis itu nanya lagi, buku catatan miliknya ada tidak?” Mas Arif menjelaskan. “aku jawab, kalo kamu yang selama ini menyimpan buku itu, sekarang dia menunggumu di parkiran.”

Aku mematung. Mulutku terkunci. Otakku berpikir cepat. Aku menoleh ke luar ke arah parkiran. Gadis itu sedang bersama temannya, dia melihat ke sana kemari, apa aku yang sedang dia cari?.

Gadis itu bersama teman perempuannya, lima langkah dariku. Aku menghela napas panjang, semakin mendekat semakin menunduk wajahku.

“Mas Irwan bawa bukunya?” suara merdu itu menyapa.

Aku menoleh. “eh? Kamu memanggilku?”

“Iya, Mas Irwan bawa buku catatanku?”

Tubuhku membeku seketika.

-bersambung