pemuda

Jangan bersikap tawadhu dan rendah hati ‘bila kerendah-hatianmu jadi alasan untuk mundur dari kompetisi.

Jangan pernah ingin mengalah bila itu semua hanya kamuflase untuk bersembunyi dari kelemahan jiwamu,

Bumi ini gelora api yg berkobar dan debu yg berserak

mendekatlah pada api spirit nyalakan hati yg lemah penuhilah kalbumu dengan kemarahan,

marah karena malas

marah karena tak pernah dewasa

marah karena lemah hati

marah karena tidak marah

melihat kemajuan sedang kita selalu dalam kemunduran,

Menjauhlah dari debu yg berserak karena debu tak pernah ciptakan sejarah karena debu adalah sampah yg selalu diinjak-injak waktu

Tawadhulah di saat kemenangan karena saat itu kau bagai sedang berdiri di antara gunung dan ngarai

terus naik ke puncak berikutnya atau meluncur ke ngarai yg terjal,

Menangislah di saat kalah karena air matamu akan jadi saksi,

bahwa dirimu tak menghendaki kekalahan itu

bahwa dirimu tak ingin jadi serpihan arang

bahwa dirimu juga memimpikan gelora api kemenangan

bahwa dirimu ingin sekali ‘bertobat’

bertobat untuk tidak lagi berkubang dalam lumpur kemalasan dalam genangan perilaku tiada guna dalam lilitan kelemahan jiwa,

Pemuda itu cahaya dan Api yang menyala yang dapat menerangi kegelapan asa dan harapan

Pemuda itu pelopor pembawa obor masa depan penggerak nurani tua yg gersang

Pemuda itu Enerjik dinamis gelisah selalu bergeliat

tak sabar akan waktu yg lambat marah pada kondisi stagnan yang tak berubah..

karena perubahan bukti harapan karena kemajuan tanda kedinamisan karena kediaman adalah kematian.

walau jasad bergerak walau jantung berdegup tapi jiwamu mati

dan liang kuburmu adalah dirimu sendiri

Puisi oleh A. Fatih Syuhud. Pondok Pesantren Al Khoirot,1 Desember 2004