“Sukses adalah mengetahui tujuan hidup anda, bertumbuh untuk mencapai potensi maksimum anda. Dan menebarkan benih yang menguntungkan bagi orang lain”

– john C. Maxwell

Orang-orang muda diajar untuk memperoleh sukses dalam pekerjaan dan karir. Banyak dari mereka yang benar-benar berhasil meraih sukses dalam pekerjaan, bisnis, profesi, yang di tandai dengan kelimpahan materi.

Namun dalam perjalanan hidup, ketika usia bertambah tua, tidak sedikit mereka yang dulunya sukses, tidak selang lama kemudian grafiknya menurun. Ketika ia tidak dalam posisi sebagai manajer, pembesar, pengusaha kaya, selebritis, professional kelas atas, sukses itu juga tidak menyertainya. Suksesnya berakhir setelah ia mengakhiri pekerjaan, profesi, karya usahanya. Sesudah itu ia hanya menyandang predikat sebagai seorang yang pernah sukses.

Banyak orang sukses sebagai pejabat dan eksekutif yang menikmati kesenangan karena fasilitas dan kemudahan yang disediakan oleh organisasi kerja. Namun ketika pensiun, mereka mengalami kesulitan menjalani kehidupan seperti masa jaya yang pernah dialami.

Lalu, dimanakah letak kesuksesan itu ? ketika dirunut ke belakang, kebanyakaan orang yang tidak menikmati sukses, karena ketika sukses ia terlalu sibuk. Ia tidak sempat memvisualisasikan dan mempersiapkan masa-masa setelah kesuksesannya mengalami masa surut dan berakhir sama sekali. Ia tidak mengaitkan kesuksesannya dengan masa depan atau masa tua. Karena terlalu sibuk, ia lengah bahwa sukses itu hanya sementara waktu saja. Orang sukses memang orang yang sangat sibuk. Sampai-sampai tidak ada waktu untuk merancang masa depannya.

Teori-teori dan strategi mencapai sukses diajarkan dimana-mana, akan tetapi teori-teori atau strategi mempertahankan dan menikmari sukses yang panjang hampir tidak ada. Sukses setelah sukses adalah sukses yang sebenarnya “Sukses Itu Semu”. Ia sekedar “batu loncatan” tempat berpijak smentara waktu.

Banyak tokoh-tokoh sukses bukan karena ia berpengetahuan tinggi atau memiliki keterampilan teknis. Tetapi disebabkan lebih cerdas dalam hal finansial, social, mental dan spiritual. Mereka bukan hanya menerapkannya dalam pekerjaan, usaha, namun juga dalam prilaku sehari-hari. Orang sejenis ini senantiasa kreatif, inovatif, dan sering memiliki daya batin atau intuisi kuat, yang mampu memberikan ide, keputusan atau pemecahan masalah. Mungkin saja ia memiliki fisik yang kurang sempurna, namun mentalitasnya mengatasi kurang sempurnaan fisiknya.

Menyimak kiat sukses para pengusaha baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, banyak perbedaannya, baik dari latar belakang, filosofi, keberanian mengambil resiko, kreativitas, kondisi lingkungan setempat atau situasional. Strategi masing-masing orang berbeda, tak mungkin begitu saja dapat di adopsi oleh mereka yang menginginkan sukses seperti mereka.

Sukses tidak menjamin hidup bahagia, banyak orang dapat merasakan kebahagiaan tanpa harus sukses secara materi terlebih dahulu. Tetapi pada umumnya memang, untuk memperoleh rahasia bahagia itu salah satu unsurnya adalah kecukupan secara finansial. Namun kebahagiaan pun juga semu. Orang terus menerus mencari kebahagiaan melalui kesenangan demi kesenangan. Adakah orang di dunia ini yang terus-menerus mengalami merasa senang ? kalau toh ada bisa jadi ia sering tampak tertawa-tawa sendirian, bercakap-cakap sendirian, atau yang belum selesai terapi dari rumah sakit jiwa, tetapi lompat keluar dari jendela.

Kebahagiaan lebih tinggi dari kesenangan. Banyak teori tentang kebahagiaan dan bagaimana mendapatkannya. Formulanya tergantung masing-masing orang. Letak kebahagiaan itu ada di dalam hati. Berikut ini, ada contoh tentang kebahagiaan. Semoga membantu !

Seorang murid bertanya kepada sang guru, “guru, apa syaratnya agar orang berbahagia ?”

Sang guru memandang pertapa itu. Lalu sambil tersenyum, dia balik bertanya, “kamu sungguh-sungguh ingin mendapat kebahagiaan ku?”

Sang pertapa pun mengangguk.

“baiklah,” kata sang guru, “kebahagiaan itu sebenernya tidak perlu dikejar-kejar. Banyak orang, dari masa ke masa, juga telah bertanya tentang apa itu kebahagiaan dan bagaimana meraihnya. Benyak orang bijak pun berusah menjawabnya. Orang-orang mengatakan, kebahagiaan itu ada dalam keterkenalan, dalam ketampanan, dalam kecantikan. Singkatnya, orang akan bahagia “kalau” ia memiliki ini itu, dan pikirannya tanpa itu, aku bukan lagi orang yang berbahagia.

Si pertapa mengangguk-angguk. “benar. Lalu menurut guru, apa syaratnya agar orang berbahagia?”

Jawab sang guru, “anda sudah dapat berbahagia dan sepantasnya berbahagia jika merasa kecil di hadapan sang kuasa, jika anda lemah lembut, jika anda haus dan lapar akan kebenaran, jika anda murah hati, jika anda taqwa dan setia kepada-Nya, dan jika anda suka damai”

“begitu kah? Mengapa guru yakin akan hal itu?” Tanya si murid.

“karena aku sendiri sudah mengalami dan melakukannya” jawab sang guru.

Source : Berani Berpikir Positif Bertindak Negatif