Banyak orang-orang yang mengikuti perubanahn zaman dengan cara mengikuti begitu saja kemana aliran sungai membawanya. Kebanyakan mereka kurang memahami dan mengerti arti demokrasi, HAM. Kekurangan paham itu diungkapkan ketika sedang berunjuk rasa, ketika menghadapi beda pendapat, ketika melihat orang-orang atau kelompok lain tidak sealiran atau satu keyakinan. Pada akhirnya, aliran muara sungai membawa dan menghempaskan mereka pada sebuah muara sungai yang hitam kotor berbau anyir. Untungnya, orang-orang muda yang lebih cerdas pola pikirnya tidak mau terbawa arus massa, yang mengatasnamakan demokrasi dan HAM, padahal mereka melakukan yang sebaliknya.

Aristoteles sudah menandai bahwa setiap manusia mempunyai sifat dasar kebinatangan (zoon politicion), manusia selalu bersaing. Lebih dari itu manusia juga sebagai serigala yang bisa “memakan” sesamanya. Namun disisi lain, manusia juga bisa bekerja sama, manusia sebagai individu adalah juga mahluk social. Dengan kata lain, seseorang dapat memilih untuk bertindak positif atau negative dalam menyikapi sesuatu. Perlu direnungkan mengapa kaum muda dan mahasiswa Indonesia pada masa penjajahan secara aktif ikut berpolitik? Kalau menurut Bung Hatta, jika para mahasiswa Belanda, Perancis, dan Inggris bisa menikmati sepenuhnya usia muda, pada masa itu kaum muda kita justru harus mempersiapkan diri untuk berani berkorban agar mampu mengubah nasib bangsa Indonesia kea rah kemerdekaan. Jika Max Weber mengaitkan perubahan nasih suatu bangsa pada “Aliran Cultural”, Ortega Y. Gasset mempercayai fungsi kaum muda sebagai agen perubahan.

Sayangnya kaum muda masa kini kurang berpotensi sebagai agen perubahan atau pembaharuan sebab mereka berjuang penuh pamrih. Akibatnya, saat target obsesi pragmatisme tak tercapai, yang muncul menyumpah-seprapahi para pemimpin. Semakin lama, sumpay pemuda seolah-olah berubah menjadi “sampah”. Itu terefleksi dari pudarnya nilai-nilai dan karakter kebangsaan serta lunturnya idealism, moralitas, bahkan spiritualitas. Padahal, nilai-nilai itulah yang terbukti telah melahirkan sumpag bertuah pada 28 Oktober 1928. Spirit perjuangan yang menyemangati Sumpah Pemuda adalah kesadaran yang tinggi tanpa pamrih, bertemunya kecendekiaan dengan peran nyata dari kaum muda, dan peran kontekstual kaum muda yang menentukan kepeloporan arah perjuangan bangsa saat itu.

Pertanyaan, di manakah pengertian dan kesadaran kaum muda muda masa kini untuk bersatu ? dimanakah keterpanggilan social dan kemanusiaannya di tengah kondisi rakyat kecil yang sangat memperhatinkan dengan angka kemiskinan dan pengangguran yang kian meningkat? Juga di manakah peran kepeloporan kaum muda kita yang disertai ketulusan berkorban demi cita-cita kebangsaan dan kenegaraan untuk menuju kehidupan yang lebih adil, sejahtera, dan beradab dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia ?

Saat ini ketika budaya konsumtif, pragmatis, hedonis, dan materialistis merasuki dunia kaum muda, tanpa disadari secara perlahan-lahan telah menjadikan nilai-nilai kearifan lokal kian pudar. Misalnya tiga dasawarsa yang lalu, orang masih berkirim-kiriman menggunakan surat pos dan mengantongi yellow page, sekarang orang menggunakan handphone. Fungsi premier handphone sebagai alat komunikasi tetaplah sama. Namun demikian, terkadang dan lebih kerap terjadi, orang lebih terkesima dan tergoda untuk tidak hanya menikmati fungsi premier dari alat tersebut. Orang lebih tergiur dengan fungsi lain yang ditawarkan, entah sebagai fungsi social yang bisa mengubah brand image positioning seseorang agar Nampak lebih sebagai the have atau yang lainnya.

Jangan heran, sebelum handphone menjadi gaya hidup tersendiri, masih banyak mahasiswa yang bergrombol disudut-sudut kampus sambil duduk melingkar dan mendiskusikan sesuatu. Saat ini, tampaknya semua telah berubah. Sebagaian besar anak muda malah terlihat lebih aktif dengan benda ajaib ini. Ketika mereka merasa bisa dimanjakan karena dapat mendengarkan lagu, menonton tayangan terlevisi atau berkomunikias secara jarak jauh tanpa repot. Belum lagi dengan sarana pendukungnya.

#komunikasi online penting, tapi komunikasi offline lebih penting, pintar-pintar menggunakan, pintar-pintar memilih