“berani menghadapi rintangan dan kesukaran lebih mulia

Ketimbang mencari selamat dengan mundur dari peperangan.

Kupu-kupu yang melayang-layang di atas lampu

Sampai mati kelelahan

Lebih mulia ketimbang tikus got yang menyembunyikan diri

Di terowongan gelap”

~Khalil Gibran

Orang-orang muda masa kini dihadapakan pada perubahan-perubahan yang sangat signifikan. Yang pertama, suasana globalisasi yang menciptakan kampong dunia (golobal village) dan persaingan yang semakin ketat. Yang kedua, suasana dalam negeri setelah gerakan reformasi Mei 1998. Dan yang ketiga, dampak dari kedua hal tersebut yang dapat melahirkan suasana serba tidak menentu, berimbas pada ketahanan nasional dan semangat kebangsaaan yang memudar. Banyaknya aksi terorisme menjadi salah satu indikasinya.

Disadari maupun tidak, orang-orang muda akan dipengaruhi oleh perubahan yang terjadi begitu cepat. Perubahan yang terjadi hampir-hampir tidak mungkin dielakan sangat sulit untuk mengubah keadaan. Yang dapat dilakukan ialah bagaimana menyikapi perubahan dan menyesuaikan dengan keadaan. Atau kalau tidak mereka dilindas oleh perubahan zaman. Bidang-bidang social, budaya, ekonomi, saling mempengaruhi antara Negara yang satu dengan yang lainnya, tidak lagi dibatasi sekat-sekat yang kelihatan (border-less).

Persaingan bebas kini menghantui Negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Dalam era persaingan bebas yang melanda selurug Negara di dunia, bangsa Indonesia belum siap menghadapinya karena suasana dalam negeri belum kondusif. Dalam keadaan lemah secara social ekonomi budaya, imbas globalisasi dapat meningkatkan jumlah penyandang kemiskinan dan pengangguran.

Gerakan  reformasi yang dimulai tahun 1998 dengan model demokrasi, HAM, dan model masyarakat madani, dengungnya sudah membahana sampai satu dasawarsa, tetapi kaum muda akar rumput tidak memahami maksudnya, sehingga hasilnya tidak dirasakan secara nyata. Golongan elit politik cerdik pandai ingin mereformasi keadaan menjadi lebih baik, namun sayang masyarakat bawah yang relative masih rendah tingkat pendidikannya (hanya 3,17& penduduk berpendidikan D1 ke atas, menurut sensus tahun 2000), tidak merespon.

Masyarakat awam tidak mengerti betul konsep reformasi, karena tidak ada yang mensosialisasikan dengan baik kepada mereka, lagi pula gerakan reformasi tidak memiliki dasar ideologis yang jelas, sehingga menimbulkan ekses perpecahan, anarkisme yang dapat mengarah pada disintegrasi bangsa. Orang-orang muda masa kini harus menghadapi badai globalisasi yang bertiup dari segala penjuru dunia dengan kecepatan yang tak kasat mata. Kaum muda juga harus merasakan getaran gempa reformasi yang melanda bumi pertiwi dengan kekuatan 3 pada skala richter dan kedalaman 0 km. dua hal penting perubahan zaman yang hendaknya disikapi dengan pikiran yang jernih, di satu sisi seorang pemuda harus pandai-pandai mencari peluang hidup bagi dirinya sendiri, di sisi yang lain juga ia perlu memikirkan keutuhan NKRI di masa depan.

Dapatkah seorang pemuda yang sedang sibuk berjuang mengais rezeki dan menggapai sukses sekaligus juga memiliki wawasan kebangsaan dan patriotism yang tangguh? Jawabannya adalah KENAPA TIDAK! Seorang pemuda yang masih memiliki hati nurani, dapat berpikir global dan bertindak dalam kearifan local.

#think globally, act locally

Sumber : Buku [Berani] Berpikir Positif